
Kadang-kadang klub sepakbola melahirkan fans yang bermusuhan. Tidak hanya di luar negeri, di Indonesia juga terjadi. Namun ternyata sepakbola juga bisa menyatukan. Contohnya Baitul Amin Footbal Club (BAFC) yang menyatukan Jamaah Surau Baitul Amin dengan masyarakat sekitar melalui sepakbola. Melalui Sepakbola silaturahim pun terjaga.
Aktivitas persepakbolaan di Surau Baitul Amin (SBA) dimulai sejak tahun 1986 di era pendiri Yayasan yaitu Prof. DR. H. SS. Kadirun Yahya MA. Setelah pendirian Youth Club Baitul Amin (YCBA), bergulir ide pembentukan klub sepakbola. H. Akhmad Syukran Bestari SE. MMSI, yang akrab disapa dengan Bang Arie adalah salah satu ketua terlama BAFC. Menurut Bang Arie tujuan utama dibentuknya klub ini sebagai media silaturrahim dengan masyarakat sekitar. “Tujuannya untuk memperkenalkan surau pada masyarakat, “ tutur Bang Arie yang kini menjabat sebagai Pengurus II SBA.
Mengingat pada masa itu, masyarakat sekitar belum banyak mengenal keberadaan SBA.Dan keberadaan BAFC berdampak positif, mempercepat penerimaan masyarakat terhadap keberadaan SBA. Sebab saat bermain sepakbola, dapat terjalin komunikasi dan silaturrahim yang intens. Pada masa awal berdirinya, BAFC cukup sering tampil dalam pertandingan eksibisi. Salah satunya dilakukan di Medan pada tahun 1989. Eksibisi ini adalah pertandingan sepakbola antar surau se-Jawa dan Sumatera. Berawal dari pertandingan tersebut, perkumpulan sepakbola bermunculan di surau-surau Yayasan.
Sejak tahun 1993 hingga 1997 berlangsung kejuaraan tahunan yang pelaksanaannya bertepatan dengan Hari Keputraan yang jatuh pada tiap tanggal 20 Juni. Peserta kejuaraan berasal dari surau-surau; Jogja, Mataram, Jakarta, Medan, Pekanbaru, dan Bandung. Dari tahun ke tahun kejuaraan yang memperebutkan piala bergilir Pendiri Yayasan, Prof. DR. H. SS. Kadirun Yahya MA, kian semarak.
Dari beberapa kali kejuaraan, Tim Surau Baitul Amin yang diwakili BAFC tampil sebagai pemenang. Padahal tujuan awalnya, hanya sekedar turut memeriahkan kejuaraan. Perkembangan positif tersebut, mendorong BAFC kian fokus mengembangkan persepakbolaaan. Pada tahun 1997 BAFC mulai melakukan pembinaan sepak bola untuk warga sekitar surau. Program sertifikasi pelatih, latihan rutin, latih tanding, pengadaan seragam dan peralatan adalah beberapa contoh. Bersamaan dengan itu, muncul bakat-bakat terpendam pesepakbola dari warga sekitar.
BAFC Berkiprah di Luar Selanjutnya, BAFC resmi bernaung dalam Divisi Utama Persatuan Sepakbola Jakarta Selatan (PSJS). BAFC mencatat prestasi sebagai juara kompetisi Divisi Utama PSJS tahun 1999. Pada saat bersamaan Bang Arie dipercaya sebagai manajer PSJS Junior. Karena prestasi tersebut, BAFC ditunjuk mewakili PSJS pada Kompetisi Sepakbola Usia 17 tahun di Lamongan Jawa Timur.
Saat itu, BAFC satu grup dengan Persita (Persatuan Sepakbola Tangerang), Persela (Persatuan Sepakbola Lamongan), dan Persib (Perserikatan Sepakbola Indonesia Bandung). BAFC keluar sebagai juru kunci. Sejak itu BAFC tidak aktif dalam kompetisi PSJS lagi. Namun prestasi sepakbola tak tutup layar. Hal yang cukup membanggakan bagi BAFC adalah para pemain binaan BAFC dahulu, saat ini sudah tersebar di berbagai klub sepakbola tanah air.
Ada yang bergabung di Persik (Persatuan Sepak Bola Kediri), PSSB (Persatuan Sepak bola Seluruh Bireun - Aceh -red), Persibo (Persatuan Sepakbola Indonesia Bojonegoro), dan Persikabo (Persatuan Sepakbola Indonesia Kabupaten Bogor). Sedangkan pelatih yang dibiayai oleh Surau Baitul Amin untuk mendapatkan lisensi PSSI adalah Bang Zainal.
Abang ini berkisah, “Bang Arie yang memfasilitasi untuk sepak bola di sekitar surau ini. Makanya kita juga senang belajar.” Kemudian ia melanjutkan, “Saya bersyukur bisa mendidik anak-anak hingga bisa bermain di mana-mana. Ada yang jadi pemain, ada yang jadi pelatih, dan sekarang juga masih banyak yang aktif di futsal. Saya sendiri aktif di futsal Lebak Wangi Parung Bogor.” Ternyata, selain menyatukan sepakbola juga menggugah semangat belajar dan bakat terpendam. (DHY)