Monday, May 21st

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Flights Akhlak

Akhlak

Akhlak Baik, Kejayaan Diraih

AKSI

Sepintas kaitan antara kebersihan, akhlak dan peradaban tidak begitu erat.Namun bila dikaji, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Hubungan antara akhlak, kebersihan dan kebersihan sangat dekat. Keduanya bersebab akibat.Sebab akhlak yang baik, kebersihan terwujud. Sedang kebersihan adalah cermin peradaban.

Hentikan! Aku Datang!

Dalam suatu perselisIhan di kalangan anak muda, terjadilah peristiwa perkelahian yang mengakibatkan kematian pada seorang anak muda yang lain. Keluarga korban menuntut pengadilan seadil-adilnya. Maka, dibawalah pemuda pembunuh ini kepada Khalifah Umar ibn Khattab.

Setelah bersidang, Amirul mukminin menjatuhkan vonis hukuman mati bagi pemuda pembunuh tersebut, dan eksekusinya lima hari ke depan setelah pelaksanaan shalat Jum’at.

Setelah vonis dijatuhkan, dan masih dalam persidangan, sang pemuda mendapatkan kabar bahwa bapaknya yang tinggal di luar kota telah meninggal dunia. Menerima kabar itu, ia meminta izin untuk mengurus jenazah orang tuanya itu, serta segala urusan yang terkait utang-piutang almarhum.

Sidang mensyaratkan adanya jaminan, yakni apabila sang pemuda tidak kembali maka orang yang menjadi jaminan itulah yang akan dipenggal kepalanya.

Karena sang pemuda tidak memiliki sanak saudara yang tinggal di Madinah dan tidak seorang pun berani menjadi jaminan baginya, maka majulah Abu Dzarr al-Ghifari. Ia menawarkan diri sebagai jaminan si pemuda itu. Karenanya sang pemuda memperoleh izin untuk pergi mengurus orang tuanya yang meninggal dunia.

Beberapa hari berselang dan shalat Jum’at pun telah usai tanda eksekusi mati akan dilaksanakan. Sang pemuda belum menampakkan batang hidungnya dan sebagian umat yang datang meratapi nasib Abu Dzarr yang akan dieksekusi mati karena kerelaannya menjadi jaminan.

Menjelang detik-detik pelaksanaan eksekusi, dari jarak yang masih jauh, tampak seorang yang sedang memacu kudanya seraya berteriak keras,“Hentikan! Aku datang!” Ternyata, teriakan itu datang dari sang pemuda pembunuh itu.

Orang-orang yang hadir lega karena Abu Dzarr batal dieksekusi. Sebagian lainnya tak sabar dan segera menanyakan kepada pemuda tadi mengapa ia tak lari keluar negeri untuk menyelematkan diri dari hukuman.

Sang pemuda menjawab, “Seorang muslim harus menepati janji.” Kepada Abu Dzarr orang bertanya,“Mengapa Anda mau merelakan sebagai pengganti sehingga nyaris mengorbankan nyawa Anda sendiri?” Abu Dzarr menjawab, “Seorang muslim harus mau menolong orang lain.”

Menyaksikan peristiwa itu, keluarga korban maju ke hadapan Khalifah untuk membatalkan tuntutannya, sembari mengatakan, “Seorang muslim harus mau memaafkan kesalahan.” (BAM)

Dikutip dari Puncak Baghdad Sejarah Dunia Versi Islam, karya Tamim Ansary, Penerbit Zaman (2010)

Akhlakul Karimah Sebagai Manifestasi Ubudiyah

Kaffah

Menilik pada maknanya pengertian Ubudiyah secara umum dapat diterjemahkan sebagai Ibadah. Tetapi dalam makna yang lebih khusus Ubudiyah dapat dipahami sebagai ”Pengabdian”, yang tidak hanya ditujukan kepada Allah SWT semata tetapi juga harus mampu diterjemahkan lebih lanjut kedalam bentuk pengabdian kepada Islam, bangsa, dunia serta umat manusia dan kemanusiaan.

Pengkilap Hati

Pengkilap Hati

Nabi berbicara tentang tingkatan tertinggi yang dapat dicapai selama hidup di dunia, dan pernyataan Beliau tentang hal ini disebut hadist qudsi karena kata-katanya langsung dari Allah:

Hambaku tidak henti-hentinya mendekati-Ku dengan taat dan tulus, hingga Aku mencintainya; dan ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, menjadi penglihatannya saat ia melihat, dan menjadi tangannya saat ia menggapai, dan menjadi kakinya saat ia melangkah.

Jujur dalam Situasi Apapun

jujur

Syekh Abd Al-Qadir Jailani dilahirkan pada 470 H/1077-78 M di Daerah Gilan di Iran Utara. Saat berusia 18 tahun, ia meninggalkan Gilan menuju Bagdad, yang sedang semarak dengan aktivitas intelektual yang tidak pernah terjadi sebelumnya, ke tempat Akademi Nizhamiyyah yang amat termasyhur itu (berdiri pada 457 H/1065 M). Namun ia kurang menyukai akademi ini sehingga menyelesaikan studi pada guru lain.

Aku Biasa-biasa Saja

biasa saja

Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik). Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal? Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.