Laporan dari Pesantren Kilat (Trenki) - Ya, judul diatas itulah tema pesantren kilat, alias Trenki 2011 yang diadakan pada tanggal 28 hingga 30 Juni 2011 lalu. Trenki sendiri adalah salah satu pelatihan rutin yang ada di Surau Baitul Amin. Pelatihan untuk anak-anak saat liburan ini juga diikuti peserta diluar jamaah Surau Baitul Amin.
Tema besar itu diterjemahkan menjadi tiga poin; yaitu, tidak mencela, cinta kebersihan dan selalu bersyukur. Agar lebih ‘masuk’, tiap materi disampaikan satu hari-satu hari. Metode baru untuk menyampaikan ketiga tema itu adalah dengan tafsir Al Qur’an Tematik. Jadi, anak-anak diajak untuk selalu berkaca pada Firman Allah SWT. Tiap hari dengan satu ayat yang menjelaskan tidak mencela, cinta kebersihan dan selalu bersyukur.
Berikut gambaran aktivitas di sebuah kelompok. Fasilitator membagikan kertas yang berisi surat Al-Hujuraat ayat 11 untuk dibaca secara bergantian. Dengan metode Tafsir Al-Qur’an Tematis, ia membaca kata “orang” dalam ayat itu dan menggantinya dengan nama sendiri saat peserta membacanya. Tujuannya, agar kalimat-kalimat Al-Qur’an bukan sekedar berita, melainkan perintah Allah SWT yang ditujukan kepada kita.
Pengajaran itu juga diterjemahkan ke dalam aktivitas-aktivitas yang bisa dihubungkan dengan tema tersebut. Misalnya, untuk kebersihan anak-anak diperkenalkan dengan ‘operasi semut’, untuk memungut sampah yang ada di lingkungan sekitar.
Sarana sosialisasi: “Aksi”
Dalam waktu yang singkat, sebagian besar anak-anak peserta Trenki juga sudah hapal slogan program “Aksi”, yaitu, Lihat. Pungut. Bawa. Buang, yang terus dikampanyekan di Surau Baitul Amin sejak diluncurkannya pada penghujung Mei 2011 lalu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Trenki kali ini juga mempunyai tema pelatihan. Kali ini yang dipilih adalah semangat masyarakat Jepang. Sebagaimana kita ketahui, masyarakat negara ini menunjukkan semangat tak kenal putus asa (‘gambaru’) saat dilanda tiga bencana sekaligus pada awal tahun ini, yakni: gempa bumi, tsunami dan bocornya reaktor nuklir pembangkit listrik. Di luar dugaan sejumlah kalangan, tidak terjadi kerusuhan atau penjarahan di masyarakat Jepang. Yang sebaliknya justru terjadi: masyarakat saling tolong menolong, membantu satu sama lain. Tidak ada tayangan televisi mengenai kesedihan yang berlarut-larut. Pemilik toko dan para pedagang bahan makanan justru menurunkan harga untuk meringankan beban sesama anggota masyarakat. Sungguh suatu cerminan suatu masyarakat yang berakhlak dan contoh yang baik bagi kita semua, tak terkecuali anak-anak.
Belajar memimpin dan dipimpin
Uniknya Trenki kali ini antara lain karena adanya materi tentang leadership, atau kepemimpinan, yang disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Contohnya, anak-anak yang terbagi ke dalam lima kelompok selalu diminta memilih pemimpin baru saat memasuki sesi acara baru; mulai dengan cara serius, sampai hom pimpa.
Sesuai kepanjangan namanya, Trenki bertujuan untuk mengakrabkan anak-anak dengan lingkungan surau termasuk ibadahibadah dalam ajaran Islam. Tapi tentunya, unsur fun tidak bisa dilupakan dari pelatihan yang kali ini dirancang untuk peserta usia 7 hingga 10 tahun. Di hari ketiga, mereka berkesempatan melakukan aktivitas fisik seperti benteng takeshi, flying fox dan penanaman pohon. Anak-anak juga berkesempatan belajar berbagi dengan sesama. “Kami mengajak mereka bermain outbound di panti asuhan dan ditutup dengan makan siang bersama anak-anak di panti tersebut,” jelas Bang Navyk, Lead pelatihan ini.
Lalu, bagaimana kesan orang tua peserta tentang Trenki ini? Saat bertemu dengan Mozaik, Bang Cipto Handoyo, mengatakan “Anak saya senang, karena banyak temannya.” Kabarnya, saking senangnya dengan Trenki, sudah ada beberapa peserta yang mendaftarkan dirinya untuk ikut Trenki tahun depan!! Wah, yang lain gimana ‘dik? (NAV)

Ulasan dan Rujukan Buku terbaik yang layak dibaca
Kupas kesehatan dan permasalahannya sehari-hari, untuk pengetahuan
Kumpulan materi dari Forum Diskusi Baitul Amin, mencerahkan dan membebaskan
Ruang berbagi Teknologi Informasi untuk pemula dan pebisnis, IT ada di sekitar kita
Berbagi pengalaman dalam bisnis sebagai akhlak mulia, Bisnis dan Ibadah adalah kesatuan 
