Ber-Aksi, alias ber-Akhlak Bersih, adalah motto yang dipakai pelatihan Sufi Thinking, awal bulan Juli lalu. Motto ini dipakai karena pelaksanaan Sufi Thinking, berdekatan dengan kegiatan “Aksi” dalam rangka membangun peradaban yang bersih. Sesuai dengan tema itu, suasana pelatihan dirancang agar membawa semangat kegiatan “Aksi”.
Pelatihan Sufi Thinking selalu diwarnai hal-hal baru, termasuk tema yang diusung. Tak hanya bagi para peserta pelatihan, “Selalu ada pelajaran yang baru, pengalaman yang baru, di manapun tugas yang diberikan,” ungkap Isnawan Sabtanto, atau Bang Wawan, yang bertugas menjadi Lead atau ketua pelaksana pelatihan. “Baik itu fasilitator kelompok, atau fasilitator teknis yang mempersiapkan berbagai kelengkapan, selalu ada sesuatu yang dipelajari,” lanjutnya. Pelatihan Sufi Thinking menggugah perubahan menuju diri yang lebih baik melalui akhlakul karimah.
Kali ini, Sufi Thinking diikuti 56 orang peserta dari berbagai daerah. Selain Jabodetabek, ada yang datang dari Palembang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bontang, Makasar. Peserta terjauh yang juga adalah peserta tertua datang dari Papua. Di Surau Baitul Amin, peserta dan para jamaah yang berperan sebagai fasilitator pelatihan semua berbaur menjadi satu.
Salah satu pemateri, Abang Aidil Ardiansyah, SE.PGDQM, saat menjelaskan tentang Paradigma Mindset dan Value, atau PMV, mengatakan, “Semua materi dalam pelatihan ini untuk mengganti pemikiran supaya menjadi yang lebih baik.” Namun, perubahan akan berhasil apabila disertai tekad yang kuat untuk mengubah diri. Ia mengibaratkan, “Kita bisa membawa kuda untuk pergi minum tetapi tidak bisa memaksa untuk minum ditelaga. Maksudnya adalah kita bisa mempengaruhi orang untuk menuju tempat perubahan itu, tetapi tidak bisa memaksa mereka untuk paham dan mengubah dirinya seperti yang kita inginkan.”
Pemateri lainnya, Abang Rahman Moenggah, SH.LLM saat menyampaikan materi tentang Islam Kaffah mengatakan, “Ternyata umat Islam di berbagai penjuru dunia saat ini dalam keadaan yang sangat terpuruk. Budaya kekerasan dimana penyelesaiannya dengan kekerasan, kebodohan, korupsi, kriminalitas yang tinggi, kemiskinan, kekalahan, keterbelakangan.”
Dengan gaya khasnya, Bang Ramon,demikian sapaan akrab bagi Abang Rahman Moenggah, melemparkan pertanyaan demi pertanyaan yang membuat suasana pelatihan interaktif. Misalnya, mengenai bagaimana kondisi umat Islam di jaman Rasulullah SAW. Para peserta menanggapi, bahwa pada masa Rasulullah SAW dan kekhalifahan Islam peradaban umat, akhlak dan ukhuwah Islamiah mencapai puncak kejayaannya. Selanjutnya, Islam dapat memimpin peradaban dunia, memungkinkan diraihnya kejayaan lahiriah dan batiniah,tak hanya kejayaan spiritual.
Islam utuh, kaffah
Lalu, apakah yang dapat dipetik dari hal ini? Di akhir sesi, Bang Ramon menyampaikan pesan Ketua Yayasan Sayyidi Syaikh H. Abdul Khalik Fajduani, SH,bahwa, “Andaikata setiap muslim berbuat baik dan menerapkan akhlakul karimah niscaya kejayaan Islam yang pernah diraih pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat akan tercapai.” Jadi kesimpulannya, umat muslim dituntut untuk melaksanakan Islam secara kaffah, meliputi aqidah, fiqih dan akhlak, tidak sebagiansebagian saja, untuk mencapai ridha Allah, sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 208, yang artinya adalah sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Suasana sukacita
Berbagai komentar menarik disampaikan peserta yang dijumpai Mozaik menggambarkan suasana sukacita pelatihan yang berlangsung tanggal 2 – 3 Juli 2011 ini. Kak Indah Julianti dari Cirebon, yang berprofesi sebagai guru SD, merasa senang mengikuti pelatihan ini. Ia menambahkan, “Dulu saya disuruh ikut pelatihan sama suami saya, saya menolak. Ternyata pelatihan di sini sangat beda dengan yang lain. Ibadahnya lengkap dan juga saya semakin paham tentang Islam secara keseluruhan.”
Hal senada juga disampaikan oleh Kak Sri Mulyani dari Palembang, kendati belum setahun bersurau, Kak Ayik begitu panggilan akrabnya, merasa sangat senang dan semakin paham tentang tarekat. “Saya semakin yakin bahwa dengan mengikuti tarekat ini saya bisa memahami Islam secara kaffah. Tidak hanya berdzikir saja, tetapi harus dimantapkan ibadah yang lain. Antara akhlak,akidah dan syariat harus kuat semuanya, jika ingin menjadi manusia yang utuh. Bahkan sekarang saya memiliki teman yang banyak. Rasanya ingin ikut pelatihan lagi kalau memang masih ada kesempatan.”
Peserta yang datang dari Liwa, Lampung, Abang Faisal Efendi, punya kesan tersendiri tentang terhadap pelatihan Sufi Thinking. “Rupanya, tarekat tidak hanya berwirid-wirid saja. Yang penting adalah merubah pola pikir. Poin utama yang saya tangkap adalah untuk mengubah cara berfikir, atau: "mengganti kepala". (Saya merasa) pelatihan ini memberikan modal untuk hidup.”
Abang dan Kakak semua, ayo, kita ikut ber-Aksi untuk mengubah diri menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Tetap bersemangat seolah hari selalu pagi. Sufi Thinking: Selamat pagiiiii!!! (DHY)

Ulasan dan Rujukan Buku terbaik yang layak dibaca
Kupas kesehatan dan permasalahannya sehari-hari, untuk pengetahuan
Kumpulan materi dari Forum Diskusi Baitul Amin, mencerahkan dan membebaskan
Ruang berbagi Teknologi Informasi untuk pemula dan pebisnis, IT ada di sekitar kita
Berbagi pengalaman dalam bisnis sebagai akhlak mulia, Bisnis dan Ibadah adalah kesatuan
