Perjalanan manusia dalam menemukan Tuhannya berbeda-beda. Salah satunya perjalanan Dr.Tun Kurniasih Bastaman Sp.KJ atau akrab disapa kak Tutun. Ia merasakan, justru karena kesederhanaan tanpa banyak bertanya, ia diberikan banyak kemudahan. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) periode 2009-2013 ini menuturkan bagaimana perjalanannya dalam bersurau.
Perayaan Kemerdekaan tahun 1968, bagi sebagian masyarakat Indonesia mengenangnya sebagai peristiwa semarak seiring dengan peralihan jaman dari orde lama ke orde baru. Namun bagi Kak Tutun, sehari setelah HUT Republik Indonesia ke 23 tersebut, adalah peristiwa penting dalam hidupnya, karena sejak malam itu ia menjadi jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah di Surau Baitul Amin.
”Waktu itu saya diajak Bang Hana ke surau. Saya nggak bertanya-tanya apa. Saya percaya aja karena yang ngajak saya itu sudah saya anggap seseorang yang sangat dekat, teman dekat, calon suami.
Ya udah dia ajak ke surau saya mau aja.” ungkap kak Tutun. Tidak terasa, kalau dihitung dari sejak tahun masuknya, maka sudah hampir dua pertiga usianya ia berkhidmat sebagai pengamal tarekat. Baginya, tarekat bukan hal yang baru dalam kehidupannya. Ayahnya juga pengamal tarekat di pesantren Abah Sepuh Suralaya. Bang Hana adalah panggilan akrab bagi Abangda Drs. Hana Djumhana Bastaman, MPsi., yang saat itu teman seperkuliahan Kak Tutun di Universitas Indonesia (UI), yang telah lebih dulu menjadi ikhwan di Surau Baitul Amin pada tahun 1966.
”Karena saya sederhana gitu, saya tidak memperhatikan detail-detailnya itu, pokoknya bagi saya adalah tarekat. Dan tarekat itu adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah.” ujarnya.
Ia juga bersyukur mempunyai pendamping hidup seperti Bang Hana karena dalam hidup, keduanya saling mengisi. Contohnya, adalah dalam mempelajari agama Islam. Ketika Kak Tutun memerlukan hadits atau dalil, ia akan menanyakan ke Bang Hana yang mempunyai ketertarikan dan mempelajari ayat atau hadits secara mendalam.
”(Saya) sudah punya sumber referensi (dalam mendalami agama).” Aku kak Tutun. Hal ini membantu Kak Tutun mendapatkan kemantapan dalam hidup sehari-hari atau apa pun baik dalam peramalan dan beragama. ”Tinggal ta sama Bang Hana, gitu. Sederhana. Kalaupun saya harus mencari sendiri, pasti ditunjukin di mana bukunya,” ungkapnya.
Baginya, ia percaya bahwa karena kesederhanaan maka ia diberikan banyak kemudahan. Salah satu kemudahan yang ia rasakan adalah ketika menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Tahun 1975, ketika itu Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Tahun sebelumnya, Gubernur melihat bahwa pelayanan kesehatan untuk jamaah DKI masih kurang. Kebijakan Bang Ali kemudian merekrut dokter-dokter Puskesmas untuk mendampingi jamaah, minimal 1 dokter untuk 1 kloter. Tak dinyana, salah satu dokter yang terpilih adalah Kak Tutun.
Baginya sebuah surprise yang patut disyukuri karena ia sebetulnya tidak menyerahkan persyaratan administrasi. Sekembalinya ke tanah air, berbagai jabatan ia pegang seiring dengan tetap menjaga keaktifan bersurau. Setelah sempat ditugaskan di wilayah Bogor, karir berikutnya adalah menjadi salah satu dokter di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekaligus sebagai staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Seiring dengan kinerjanya, ia menjabat sebagai Ketua Departemen Kedokteran Jiwa di FKUI mulai tahun 2000 sampai pensiun tahun 2005.
Memasuki masa pensiun, profesi Kak Tutun sebagai psikiater atau ahli kedokteran jiwa tetap ia tekuni. Seperti halnya ketika menjadi PNS aktif, Kak Tutun kerap memberikan berbagai ceramah tentang kesehatan jiwa. Materi tidak hanya ia sampaikan di hadapan dokter-dokter seprofesinya, karena ia kerap mengisi berbagai pelatihan jamaah di Surau Baitul Amin, seperti pelatihan pengembangan sumber daya manusia yang dikenal dengan pelatihan Sufi Thinking.
Pengabdiannya dalam mensyiarkan ilmu kedokteran jiwa terus berlangsung selepas masa pensiun. Konsistensi dan ketekunannya mengantarkan Kak Tutun dipilih oleh rekan-rekan psikiater sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada kongres tahun 2009 di Manado. Sebagai ketua perhimpunan, ia seringkali diundang sebagai pembicara dan publisitas dari pemikirannya kerapkali dikutip oleh media massa.



Ulasan dan Rujukan Buku terbaik yang layak dibaca
Kupas kesehatan dan permasalahannya sehari-hari, untuk pengetahuan
Kumpulan materi dari Forum Diskusi Baitul Amin, mencerahkan dan membebaskan
Ruang berbagi Teknologi Informasi untuk pemula dan pebisnis, IT ada di sekitar kita
Berbagi pengalaman dalam bisnis sebagai akhlak mulia, Bisnis dan Ibadah adalah kesatuan 
