Monday, May 21st

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Mozaik Tutur Pagi Istimewa

Pagi Istimewa

E-mail Print PDF
pagi istimewa

Pagi itu, ketika bunga-bunga bermekaran, rerumputan terhampar menghijau, ditingkahi kicauan burung-burung di antara rerimbunan pepohonan, seorang lelaki berjalan membawa tongkat diiringi seorang anak perempuan kecil berumur delapan tahun.

“Papa kita jalan-jalan pagi? Kenapa harus membawa tongkat?” Gadis kecil itu bertanya dengan suara nyaring kanak-kanaknya. “Oh, tongkat ini sangat berguna untuk anjing jahat atau ular yang kesiangan,” jawabnya sambil tersenyum.

“Papa, hari ini tanggal 20 Juni,selamat ulang tahun ya pa…,” Gadis kecil itu melompat, ingin mencium pipi ayahnya.Lelaki itu berjongkok lalu mencium putrinya. “Terimakasih sayang, engkau selalu bangun paling pagi. Sehingga engkau selalu ikut berjalan-jalan bersamaku.Tapi kita harus cepat-cepat berjalannya, nanti orang-orang itu keluar, dan akan sibuk kita dibuatnya.” Lelaki itu mempercepat langkahnya. Membuat gadis kecil itu harus agak berlari.

Lelaki itu seorang guru fisika kimia yang amat disenangi oleh murid-muridnya. Karena amat menarik kalau mengajarkan sesuatu yang disebutnya “kimia besar”.Semua perhatian murid-murid akan tertuju kepadanya. Bahkan ada yang sampai mulutnya ternganga. Dia menjelaskan ilmu fisika kimia dengan amat menarik. Ia juga menjelaskan hubungan alam semesta dengan Sang Pencipta.

Dan Dia adalah seorang guru sufi, yang amat menarik. Selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya dengan jawaban yang mencerahkan lagi menyejukan hati.

Benar, hari itu adalah hari ulang tahunnya. Mereka sekeluarga selalu membuat ayam panggang dan pulut kuning serta mendoa bersama sebelum maghrib tiba. Akan ada juga bulatan-bulatan telur rebus mengelilingi ayam panggang itu. Dan yang berulang tahun, akan memakan sesuap lebih dulu, baru dibagikan kepada yang lainnya. Itulah tradisi di keluarga itu.

Tapi kali ini agak berbeda, karena suluk atau disebut juga itikaf sudah berakhir.

Dan sangat kebetulan hari itu adalah hari ulang tahun sang ayah. Seperti biasa ibu keluarga itu, yang biasa dipanggil umi mulai mengejar ayam untuk dipotong, guna jamuan sore itu. Anak perempuan kecil itu dengan cepat ikut mengepung ayam itu dan menubruknya. Hap! Dan ayam itu pun tertangkap.

Bertiga mereka menyembelihnya, lalu membawa ayam itu ke dapur. Sang ayah kembali masuk ke dalam surau untuk berkumpul dan berbincang dengan muridnya. Gadis kecil cerdas itu pun meniup bara, menghidupkan api dengan menghembus udara melalui batang bambu. Maka jelaga dapur membuat hidung dan pipinya jadi cemong.

Sesudah dzuhur jamaah suluk tahu, jika hari ini ulang tahun ayah. Kemudian waktu tutup suluk dibawanya ayam yang dikejar-kejar tadi. Pada acara tutup suluk, MC menyampaikan kalau hari itu adalah hari ulang tahun ayah. Ayah pun menangis. Tanggal 20 Juni kemudian dibuat menjadi hari seluruh aulia warasatul anbiya. Maka disebut hari itu sebagai hari guru. (KAK MER)

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Share/Save/Bookmark