Visi Thareqat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah
Mengamalkan Islam secara kaffah, dimulai dengan memahami unsur-unsur pokoknya. Dalam Tafsir Al-Mishbah, Prof. M. Quraisy Shihab membagi kandungan Al-Islam (Al-Quran) menjadi tiga unsur pokok; akidah, syariah, dan akhlak. Bagaimana cara memahami ketiga-tiganya?
Akidah atau kerohanian menyangkut hablumminallâh yaitu hubungan manusia dengan Allah. Sedangkan akhlak terkait dengan hablumminannâs, hubungan manusia dengan manusia.
Adapun fikih atau syari’ah, dalam pengertian sederhana, merupakan perekat antara akidah dan akhlak yang tertuang dalam formulasi hukum, peraturan, dan tata cara lahiriah ibadah dan muamalah. Fikih sekaligus berfungsi sebagai identitas bagi seorang Muslim/Mukmin. Gabungan ketiga unsur pokok inilah yang dimaksud dengan Islam Kaffah.
Akidah atau kerohanian yang dimaksud di sini adalah kemampuan mengenal, mengalami dan meyakini Allah secara haqqul yaqin. Atau dalam pengertian lain dikenal sebagai Ihsan. Ihsan dapat dicapai dengan intensifikasi dzikrullah di jalan sufi yang disebut dengan thareqat sebagai fondasi hablumminallâh.
Tujuan thareqat adalah menggapai ridha Allah SWT semata. Tujuan ini tersimpul dalam doa yang selalu dibaca ikhwan thareqat, yaitu ilâhî anta maqshûdî wa ridhâka mathlûbî, Tuhanku, hanya Engkau yang kutuju dan hanya ridha-Mu yang kucari. Doa tersebut merupakan perwujudan atas firman Allah SWT dalam al-Quran,
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An'âm, 6: 162)
Pada level ideal, ketika syarat dan rukun terpenuhi, thareqat adalah sarana perbaikan akhlak. Secara keseluruhan, thareqat akan melahirkan ketaatan menjalankan fikih sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yang merupakan asas dalam thareqat.
Misi Para Rasul
Akhlak adalah salah satu dari dua misi Kerasulan yang paling pokok. Misi pertama berkenaan dengan akidah, tauhid atau kerohanian sebagaimana firman Allah SWT:
“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka menyembah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan kecuali Dia.” (At-Taubah, 9: 31), “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rasul (yang memerintahkan:) Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut;” (An-Nahl, 16: 36).
Misi kedua adalah menyempurnakan kemuliaan akhlak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya aku diutus tiada lain hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Akhlak menjadi pondasi hablumminannâs. Nabi SAW bersabda, “Kalian tidak dapat memperlakukan orang dengan kekayaan kalian, tetapi kalian harus memperlakukan mereka dengan akhlak kalian.”
Akhlak juga menentukan hablumminallâh. Akhlak buruk menyebabkan terhambatnya ridha Allah SWT. Dalil-dalil al-Quran dan al-Hadits tentang hal ini banyak sekali. Tentang akhlak buruk sombong, misalnya, al-Quran menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggabanggakan diri (An-Nisâ', 4: 36).
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: “Segeralah kalian berakhlak baik, karena orang yang berakhlak baik pasti masuk sorga; dan berhati-hatilah, jangan sampai kalian berakhlak buruk, karena orang yang berakhlak buruk pasti masuk neraka.”
Kesatuan yang Padu
Menurut Prof. M. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al Mishbah, kandungan ayat Al Quran yang terkait dengan fikih kira-kira 3%. Selebihnya yaitu 97% berkenaan dengan akidah dan akhlak. Masing-masing dari akidah, akhlak dan fikih ini muncul secara bertahap, tidak sekaligus. Baru menjelang Rasul wafat,seluruh ajaran Islam (akidah, akhlak, dan fikih) menjadi sempurna. Kesempurnaan ajaran Islam itu ditegaskan sendiri oleh Allah ketika Dia berfirman,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kusempurnakan nikmat- Ku kepadamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (Al-Mâidah, 5: 3).
Akidah, akhlak dan fikih merupakan satu kesatuan yang padu yang tidak dapat dipisahkan. Dalam kaitan ini, Ketua Yayasan menggambarkan Islam Kaffah seperti telur. Fikih adalah kulit telur, akhlak adalah putih telur, dan akidah atau kerohanian adalah kuning telur. Ketiga-tiganya harus ada supaya dapat disebut sebagai telur. Akidah, akhlak dan fikih harus diyakini, dihayati dan diwujudkan bersama-sama sekaligus agar dapat dicapai Islam Kaffah.
Sayangnya, sebagian besar dari umat Islam masih terkungkung dalam paradigma fikih semata. Dalam pandangan mereka fikih seolah-olah sama dengan “Islam” itu sendiri. Paradigma fikih yang tidak dipahami dengan pendekatan moral dan spiritual (akhlak dan thareqat) merupakan sebab kegagalan dan kekalahan umat Islam. Sebaliknya, paradigma moral an sich karena tidak dibarengi dengan keimanan yang benar dan pendekatan spiritual yang memadai telah menjadikan semua kesuksesan yang dicapai tidak lebih daripada fatamorgana belaka. Contohnya seperti di Jepang, China, Amerika, dan Eropa.
Paradigma spiritual (thareqat) pun, jika tidak dilengkapi dengan paradigma fikih dan moral, akan melahirkan ketimpangan, dan bahkan juga kesesatan di samping kegagalan. Artinya, pengamalan spiritualitas (thareqat) yang optimal akan melahirkan moralitas yang signifikan untuk meraih sukses, dan sekaligus memotivasi ketaatan menjalankan fikih sebagai perwujudan ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.
Tinggalkan Pemahaman Parsial
Apa pun, jika orang Islam ingin hidup sukses, mulia dan terhormat sebagai individu dan meraih kembali posisi mereka sebagai khairu ummah dan khalîfah fil ardh yang mampu menebarkan rahmat ke seluruh alam (rahmatan lil ‘âlamîn), dan sekaligus meraih kesuksesan ukhrawi,maka satu hal yang sangat mendesak untuk dilakukan adalah reinterpretasi Islam. Yaitu dengan meninggalkan pemahaman keislaman yang sepotongsepotong (fikih an sich, atau akhlak an sich, atau kerohanian an sich), menuju pemahaman dan pengamalan Islam kaffah (akidah, akhlak, dan fikih sekaligus) sebagai manifestasi ketaatan menjalankan perintah Tuhan,
“Masuklah kalian semua ke dalam Islam secara kaffah.”(Al-Baqarah, 2: 208)
Jika setiap individu di lingkungan umat Islam berlapang dada untuk menyadari pentingnya reinterpretasi Islam menuju pemahaman dan pengamalan Islam kaffah, niscaya kemenangan umat Islam tidak akan lama lagi, baik secara nasional maupun secara global, karena pengamalan Islam kaffah sebagaimana yang diamalkan Rasul dan para sahabat benar-benar adalah kunci sukses dunia dan akhirat, dan Allah SWT sendiri telah berjanji dengan firman-Nya,
“Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat.” (Al-Baqarah, 2: 214).
Selanjutnya, kita perlu segera mengevaluasi diri: Sudahkah kita benarbenar beriman dan bertakwa? Sudahkah kita benar-benar taat dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita mengikuti semua sunnah Nabi-Nya? Kalau belum, mari kita bersama-sama bertekad untuk mencapai semua itu. Kita harus terus-menerus mempelajari al-Quran dan al-Sunnah serta menjadikan keduanya sebagai peta perjalanan hidup kita.(RM/RHAY)
catatan: Materi Presentasi "Apa Yang telah kita perbuat pada Al-Quran" dapat diunduh dan dibaca di sini.

Ulasan dan Rujukan Buku terbaik yang layak dibaca
Kupas kesehatan dan permasalahannya sehari-hari, untuk pengetahuan
Kumpulan materi dari Forum Diskusi Baitul Amin, mencerahkan dan membebaskan
Ruang berbagi Teknologi Informasi untuk pemula dan pebisnis, IT ada di sekitar kita
Berbagi pengalaman dalam bisnis sebagai akhlak mulia, Bisnis dan Ibadah adalah kesatuan
