Kehidupan tasawuf yang dilakukan seseorang merupakan jalan penyucian hati dan jalan kekhusyukan untuk mengingat Dia.Ini adalah perkataan Syaikh al-Junayd al-Baghdadi, tokoh sufi termashur yang senantiasa disebut dalam do’a silsilah pengamal Tarekat Naqsyabandiyah naungan YPDKY selain Syaikh Abu Yazid al-Bistami (lahir 188 H/804 M dan wafat 261 H/875 M), dan Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani (lahir 470 H/1077 M). Berhubungan dengan kekhusyukan, Syaikh al-Junayd al-Baghdadi juga mengatakan,“Tuhan menyucikan ‘hati’ seseorang menurut kadar kekhusyuknya dalam mengingat Dia.” Berikut riwayat singkat Syaikh al-Junayd al-Baghdadi.
Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim al-Junayd ibn Muhammad ibn Junayd al-Baghdadi. Ia kemudian lebihpopular dengan panggilan al-Junayd al-Baghdadi, dan terkadang juga dipanggil al-Junayd saja. Ia merupakan tokoh sufi yang besar pengaruhnya di Baghdad. Al-Junayd lahir di Kota Nihawand, Persia, dan wafat pada 298 H/910 M. Meskipun ia lahir di Nihawand, keluarga-nya bermukim di Kota Baghdad, tempat ia belajar hukum Islam menurut mazhab Imam Syafi’i, dan akhirnya ia menjadi qadi di Baghdad,kemudian ia menganut Mazhab Abu Tsawr.
Dalam disiplin sufi, ia adalah murid pamannya, Syaikh Sari al-Saqati (w. 253 H/867 H), saudara kandung dari ibunya sendiri. Di samping belajar dengan al-Saqati, ia berguru juga kepada Abu Abd Allah al-Haris ibn Asad al-Basri al-Baghdadi al-Muhasibi (165 H – 243 H/781 – 857 M), seorang sufi yang terkemuka di Baghdad ketika itu. Al-Junayd al-Baghdadi, bahkan dipandang sebagai murid terdekat dan paling banyak mendapatkan ilmu dari Haris al-Muhasibi tersebut.
Sejak kecil, al-Junayd terkenal sebagai orang yang cerdas, sehingga sangat mudah dan cepat belajar ilmu-ilmu agama dari pamannya.Karena kecerdasannya itu, ketika berumur tujuh tahun,al-Junayd telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan tentang makna syukur. Dengan tenang dan tangkas, ia menjawab pertanyaan tersebut,“Jangan sampai Anda berbuat maksiat dengan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.” Itulah jawaban yang singkat dari al-Junayd.
Kehidupan al - Junayd al-Baghdadi,di samping sebagai sufi yang senantiasa mengajarkan ilmunya kepada muridmuridnya, ia juga sebagai pedagang yang meneruskan usaha ayahnya, yaitu sebagai pedagang barang pecah-belah di pasar tradisional. Selesai berdagang, beliau ke rumah dan mampu mengerjakan salat dalam waktu sehari semalam sebanyak empat ratus rakaat.
Al-Junayd al-Baghdadi adalah seorang sufi yang mempunyai prinsip tak kenal putus asa, terbukti misalnya dalam ibadah, baik dikala sehat maupun sakit, ia senantiasa konsisten melaksanakannya, bahkan dalam keadaan sakit, ia merasa semakin dekat dengan Allah SWT.
Disamping itu, al-Junayd memiliki sifat tegas dalam pendirian. Itu terlihat ketika ia menandatangani surat kuasa untuk menghukum mati muridnya sendiri, Husayn ibn Mansur al-Hallaj (w. 309 H/922 M), sufi pencetus konsep al-hulul. Dalam surat kuasa itu, ia menulis dengan tegas, “Berdasarkan syariat, ia (al-Hallaj) bersalah, tetapi menurut hakikat, Allah Yang Maha Mengetahui”.
Pada akhir perjalanan hidupnya, ia diakui banyak muridnya sebagai imam. Sehubungan dengan itu, dalam pandang Sa’id Hawwa, seorang tokoh sufi kontemporer, ada beberapa sufi yang dapat diterima oleh umat Islam, salah satunya adalah al-Junayd al-Baghdadi ini, di samping tokoh-tokoh lain, seperti al-Ghazali (w.505 H/1111 M). Al-Junayd meninggal dunia pada Jumat, 298 H / 910 M (versi lain: 297 H/910 M) dan dimakamkan di dekat makam pamannya sekaligus gurunya, Sari al-Saqati, di Baghdad.
Dari surat-suratnya atau risalahrisalah singkatnya dan keterangan dari para sufi serta penulis biografi sufi sesudahnya,dapat dipandang bahwa jalan hidup al-Junayd al-Baghdadi merupakan perjuangan yang permanen untuk kembali ke “Sumber” segala sesuatu,yakni Tuhan. Bagi al-Junayd al-Baghdadi,cinta spiritual (mahabbah) berarti, “Sifatsifat Yang Dicintai menggantikan sifat-sifat pencinta.”
Al-Junayd memusatkan semua yang ada dalam pikirannya, semua kecenderungannya, kekagumannya, dan semua harapan dan ketakutannya, hanya kepada Allah SWT. Untuk itulah, dengan pahampaham ketasawufannya, ia sering dipandang sebagai seorang syaikh sufi yang kharismatik di kota Baghdad. Banyak terekat sufi yang silsilahnya melalui al-Junayd.
Al-Junayd terkenal sebagai tokoh sufi yang sangat konsen dengan dunia tasawuf yang digelutinya. Bahkan bagi beliau tidak ada ilmu di dunia ini yang lebih tinggi dari tasawuf. Dalam hal keteguhan pada tasawuf inilah beliau mengatakan,“Apabila saya mengetahui ilmu yang lebih besar dari tasawuf, tentulah saya pergi mencarinya, sekalipun harus dengan cara merangkak.”

Ulasan dan Rujukan Buku terbaik yang layak dibaca
Kupas kesehatan dan permasalahannya sehari-hari, untuk pengetahuan
Kumpulan materi dari Forum Diskusi Baitul Amin, mencerahkan dan membebaskan
Ruang berbagi Teknologi Informasi untuk pemula dan pebisnis, IT ada di sekitar kita
Berbagi pengalaman dalam bisnis sebagai akhlak mulia, Bisnis dan Ibadah adalah kesatuan 
